Jika Anak Berbohong.!?

Di sebuah sekolah, sekelompok anak sedang mengobrol sambil menunggu waktu sholat ‘Ashar tiba. Mereka mengobrol sambil saling menimpali perkataan kawannya, seru! Salah satu anak bercerita tentang seberapa besar ikan yang ditangkapnya dari danau di samping sekolah. Sambil berseru-seru, anak yang lain berebutan mengomentari kawannya. Seorang anak yang lain ikut mengomentari. Dia berkata sambil berapi-api; “Eh, eh, eh! Tahu enggak? Kata Kakakku, di kebun itu ada ikan paus-nya, lho!”

Sebagai orang dewasa, dengan segera kita dapat menyadari bahwa kata-kata anak itu adalah suatu kebohongan. Sejak kapan ada ikan paus yang hijrah dari laut kemudian hidup di danau tawar ?

Sebagian anak-anak sudah terbiasa berbohong. Terkadang kebohongan mereka terasa begitu biasa, dan tidak dianggap kebiasaan yang buruk. Padahal perkataan bohong semacam itu dapat menumbuhkan perilaku bohong. Dan perilaku bohong dapat menjadi suatu kebiasaan. Sedangkan kebiasaan bohong dapat menumbuhkan kepribadian penipu.

Kebohongan secara moral dapat dikategorikan sebagai suatu perilaku negatif. Seorang anak bebohong untuk berbagai macam alasan. Sudah seharusnya sebagai orangtua, kita mampu mengenali alasan kebohongan anak.

Berbohong untuk menarik simpati dan perhatian

Anak sekolah tadi berbohong agar mendapatkan perhatian dari kawan-kawannya yang berebutan menceritakan betapa besarnya ikan tangkapan mereka. Ia sadar bahwa dirinya tidak pernah menangkap ikan seekor pun, tapi ia tahu cerita keganasan ikan paus. Maka ia mengarang cerita dan mencatut nama kakaknya sebagai salah seorang yang disegani agar kawan-kawannya percaya. Seringkali seorang anak berbohong, namun tidak semua isinya bohong. Ia terkadang mengarang cerita yang dilebih-lebihkan.

Misalnya ketika dua orang anak saling membanggakan ayahnya; “Ayahku sangat kuat, ia bisa menggendong aku dan kakak-kakakku sekaligus di pundaknya,” ujar seorang anak. Anak yang lain tidak mau kalah dan berkata; “Ayahku lebih kuat, dia bisa mengangkat dua buah mobil!”

Berbohong untuk melindungi teman

Terkadang seorang anak berbohong untuk melindungi temannya. Mungkin karena takut orangtuanya memarahi teman-temannya, kemudian ia akan merasa malu di hadapan teman-temannya. Atau mungkin karena rasa kesetiakawanan yang salah tempat. Seorang anak mengatakan pada ibunya bahwa ia lah yang telah menghabiskan semua kue di dalam kotak kue. Padahal ia membaginya bersama beberapa orang kawannya.

Berbohong karena meniru orangtua

Inilah sebab terbesar kebohongan anak-anak. Ketika anak melihat orang tua berbohong, maka rasa menghargai kejujuram di hatinya semakin mengikis. Misalnya jika ada seseorang datang ke rumah ingin bertemu dengan ayahnya. Namun sang ayah berkata; “Bilang ayah sedang tidur !” Padahal ia tahu kalau ayahnya sedang membaca koran.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam contoh ini; – Pertama; anak mengetahui bahwa orangtuanya berbohong. –Kedua; orangtua menyuruh anak berbohong kepada orang lain.

Dalm hal ini, orangtua sudah memberikan contoh yang tidak baik dengan berbohong, kemudian menyuruh anak melakukannya. Sungguh suatu sikap yang buruk. Sikap ini mengajarkan anak agar tidak menghargai suatu kejujuran.

Cara terbaik yang bisa ditempuh untuk melatih anak berbuat baik ialah melatih diri sendiri dengan berbuat baik.

Berbohong untuk menghindari sesuatu

Jika anak jelas-jelas membantah tidak melakukan sesuatu yang sebenarnya ia lakukan, mungkin ia sengaja berbohong dan mengarang cerita agar terhindar dari hukuman akibat kesalahan yang dilakukannya. Sebaiknya orangtua mencoba mengevaluasi diri karena mungkin anak itu berusaha menghindari hukuman fisik yang mungkin sering diterapkan orang tuanya. Atau mungkin juga karena anak menghindari kritik atau cemoohan yang mungkin diterimanya jika ia melakukan kesalahan.

Jurus menghadapi anak yang berbohong:

  1. Berilah contoh yang baik

Para pendidik berpendapat, bahwa pendidikan paling utama itu adalah pemberian tauladan (contoh) yang baik. Maka selayaknya setiap pendidik atau orangtua tidak mendustai anak-anak. Walaupun dengan berbagai alasan seperti; membujuk mereka agar berhenti menangis, membujuk mereka agar menyukai sesuatu, atau pun menenangkan mereka dari kemarahan. Jika kebohongan ini dilakukan, berarti telah membiasakan anak-anak untuk berbuat bohong di samping menghilangkan rasa percaya anak-anak terhadap pendidik ataupun orangtua.

Rosululloh r telah memperingatkan para orangtua agar tidak berdusta di hadapan buah hatinya, meskipun hanya sebagai gurauan. Abdullah ibnu Amir menceritakan dalam haditsnya:

دَعَتْنِى أُمِّى يَوْمًا وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَاعِدٌ فِى بَيْتِنَا فَقَالَتْ هَا تَعَالَ أُعْطِيكَ. فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَمَا أَرَدْتِ أَنْ تُعْطِيهِ » قَالَتْ أُعْطِيهِ تَمْرًا. فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَمَا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تُعْطِيهِ شَيْئًا كُتِبَتْ عَلَيْكِ كِذْبَةٌ »

“Pada suatu hari ibu memanggilku, sedangkan Rosululloh r duduk di rumah kami. Ibuku berkata; “Kemarilah, aku akan memberimu.” Kemudian Rosululloh r berkata kepada ibuku; “Apa yang akan engkau berikan kepadanya ? Ibuku menjawab; “Aku akan memberinya sebuah kurma.” Maka Rosululloh r berkata kepadanya; “Jika engkau tidak memberikan sesuatu, maka engkau akan dicatat sebagai orang yang pendusta.”  (HR Abu Daud dan Baihaqi. Al Albani berkata: Hadits ini hasan)

  1. Jangan hukum anak dengan hukuman yang keras

Jika sang anak melakukan sebuah kesalahan, maka jangan beri hukuman yang tidak setimpal atau hukuman fisik, misalnya pukulan, cambukan, dikurung, dan sebagainya. Jika hukuman seperti itu diterapkan, maka sang anak akan berbohong untuk menghindari hukuman tersebut. Kebohongan seperti ini disebabkan karena rasa takut dan merasa terancam.

  1. Berilah pengertian dengan bijaksana dan tidak disertai emosi bahwa bohong merupakan perbuatan tidak baik dan dibenci banyak orang.
  2. Pereratlah hubungan orangtua-anak. Jika anak dekat dengan orang tua, ia akan lebih terbuka, sehingga ada rasa saling mempercayai dan menghargai. Jadi, perbanyaklah waktu bersama anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *